Jumat, 23 Maret 2012

WANTED: Peluang Bisnis Yang Pasti Laku !!

Siang itu panas begitu terik. Saya sedang asyik melihat proses mobil saya yang sedang dicat di sebuah bengkel langganan keluarga saya ketika tiba-tiba seorang pemuda datang dan menegur nama saya. Semula saya tidak mengenalinya, tapi samar-samar sepertinya kenal. Ohh.. baru saya ingat kalau dia, sebut saja si Budi, adalah teman adik saya yang pernah saya temui beberapa tahun lalu di tambak udang adik saya.  Akhirnya kita ngobrol-ngobrol sejenak. Inilah sepenggal percakapan kita.

Budi :
Bisnis saya lagi berjuang nih.. 

Saya :
Tambak udang kamu gimana? Masih jalan gak?

Budi :
Udah tutup! Jumlah pembelinya menurun terus... 
Saya jual tanah dan fasilitasnya sekalian.

Saya :
Loh kok bisa? 

Budi :
Persaingannya banyak sekarang. 
Tambak terpaksa saya jual karena keluarga saya butuh uang.    



Mungkin situasi seperti ini banyak kita dengar atau alami di lingkungan sekitar kita. Tak dapat dipungkiri bahwa jaman sekarang dunia usaha semakin kompetitif.  Banyak orang berjuang lebih keras di dalam usahanya dibandingkan di waktu-waktu sebelumnya. Demi menyelamatkan kelanggengan usaha, akhirnya banyak pengusaha yang menggunakan jurus andalannya : "PERANG HARGA". 

Kenapa harus peranga harga? Tak lain karena mayoritas pasar (market) menghendaki harga yang paling murah. Tidak semua memang, tapi sebagian besar kecenderungannya seperti itu. Di industri telco, kita banyak melihat iklan-iklan provider seperti Telkomsel, XL, Indosat, Esia, 3 (Hutchison), dsb. yang menawarkan biaya murah, sampai-sampai ada juga yang gratis nelpon. Hampir semua industri menawarkan harga murah, baik lewat program diskon, buy 1 get 1, bundling, sampai cicilan 0%. 

Bombardir Promosi dimana-mana

SURVIVE or DIE ?

Pada dasarnya perang memang sudah diwarisi oleh para nenek moyang kita untuk memperebutkan sesuatu. Seluruh bangsa di dunia ini memiliki sejarah perang yang luar biasa. Bahkan di jaman purbakala pun, yang kuat adalah yang akan menang. Perang harga memang tidak dapat dihindari. Dan pada akhirnya biasanya yang memiliki amunisi banyak yang akan menang. Challenge-nya adalah bagaimana kita dapat survive dan menang dalam perang yang dilakukan. Yang tidak bisa survive pasti akan mati. 

Bagaimana kita bisa membuat strategi perang tersebut? Think! Ketika semua orang perang harga, apakah Anda harus juga ikut berperang harga? Jika Anda memilih untuk ikut perang harga, berarti Anda tidak ada bedanya dengan yang lain. Dan bisnis Anda tidak akan kelihatan berbeda dibandingkan yang lainnya. Lalu bagaimana caranya supaya tampak berbeda? 


DIFFERENTIATION 

Ketika semua terlihat sama, buatlah perbedaan. Lawanlah arus. Buatlah diferensisasi produk / jasa Anda dibanding para kompetitor Anda. Buatlah inovasi-inovasi baru, sehingga bisnis Anda terlihat unik. Ini adalah langkah awal untuk Anda keluar dari cluster yang sudah padat. 

Keluarlah dari teritori Red Ocean, dimana pasar (market) sudah jenuh karena dipadati oleh supply yang terlalu banyak, sehingga persentase effort yang dilakukan menjadi tidak sebanding lagi dengan imbal balik (hasil) yang didapatkan, sehingga imbasnya profit perusahaan akan semakin sedikit.

Namun sebaliknya, lakukanlah Blue Ocean Strategy, dimana Anda keluar dari market yang sudah jenuh dan menciptakan value-value baru yang belum ada, sehingga membuat ruang gerak Anda menjadi sangat luas dan berpotensi besar untuk menumbuhkan perusahaan. 




FOUND CUSTOMER INSIGHT

Saat ini jamannya customer dapat menyuarakan feelingnya dalam mendapatkan kepuasaan akan suatu produk / jasa. Bahkan para individual ini dapat memberikan rekomendasi positif atau negatif akan pengalaman produk / jasa yang diperolehnya. Oleh karena itu sebuah brand jika tidak mau ditinggalkan oleh customernya harus mendapatkan Customer Insight yang dilakukan secara berkala. Salah satu caranya dengan melalui Etnografi. Etnografi adalah cabang dari antropologi yang mempelajari kebiasaan manusia dari berbagai dimensi dan budayanya. Melalui berbagai case study kita mempelajari setiap individu atau kelompok faktor-faktor apa dan bagimana sehingga mendorong mereka melakukan apa yang mereka lakukan.

Perusahaan-perusahaan besar semacam Unilever, P&G, Coca Cola, dan Sosro sudah melakukannya untuk mendapatkan Insight dari para customernya untuk meningkatkan Customer Satisfaction atas produk yang dipakainya. 

Apple menggunakan Etnografi dengan melakukan riset bagaimana orang-orang akan dapat menggunakan Ipod / Ipad sebagai bagian dari keseharian mereka. Oleh karena itu pula diciptakan Apple Store dan berbagai applikasi yang dapat meng-engage para consumer. 

Dibawah ini adalah beberapa tips yang dapat dijadikan acuan untuk mendapatkan cusumer insight:

  • Pelajari needs-nya. 
    • Di jaman moderen ini kebutuhan manusia tidak cukup hanya pada kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, dan papan. Namun sudah berkembang ke pencapaian aktualisasi diri di dalam status sosialnya. Artinya manusia butuh diakui, dipahami, dihargai, diakui, diterima, dan disayangi. (Maslow's theory of Human Motivation)
  • Pahamilah consumer habit dan attitudenya.
    • Setiap kelas di dalam masyarakat memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dalam kelas sosialnya dimana kebiasaan ini akan membentuk attitude untuk mempertahankan image yang diinginkannya. 
  • Kenali Value dan Beliefs
    • Carilah apakah value yang diapresiasi oleh consumer, karena dibalik value tersebut terdapat beliefs yang telah tertanam dari warisan orang-orang tua yang berpengaruh di hidupnya (habitus). Dan dapat juga karena mitos yang telah dipercaya oleh consumer.Misalnya Starbucks ramai dikunjungi karena menawarkan value sebagai tempat berkumpul bagi para medium-high class people dimana dapat mengekspresikan lifestyle yang comfortable dan elegan. 
  • Pelajarilah Consumer Usage dan Purchase Behaviours
    • Setiap individu membeli suatu barang pasti dipengaruhi oleh beberapa hal yang memotivasinya. Carilah tahu apa motivasinya dan bagaimana ia dapat berkompromi terhadap motif tersebut. Lalu bagaimana cara penggunaan produk / jasa tersebut dalam kesehariannya? Ini akan mengacu juga kepada informasi berapa lama durasi (lifecycle) pemakaian barang tersebut. Pola kebiasaan dan karakter setiap individu ini sangat mempengaruhi keputusan untuk membeli suatu produk / jasa. 
    • Misalkan saja seorang individu selalu mengganti model Blackberry-nya karena cepat merasa bosan dengan model yang dipakainya. Dengan keluarnya model-model baru dengan spesifikasi, design, dan fitur yang lebih baik biasanya menggoda orang tersebut untuk mengganti ke model yang lebih baru.   
  • Kenali bagaimana hubungan consumer mempunyai hubungan antara produk dan brand.
    • Mengapa Blackberry lebih laku dibandingkan Iphone di Indonesia? Kultur orang Indonesia yang ramah dan bersosial tinggi terkoneksi dengan kebiasaan untuk chatting. Sebenarnya kita dapat melakukan chatting di Iphone dengan aplikasi semacam Whatsapp dan Yahoo Messenger. Namun ketika banyak orang sudah terbiasa menggunakan Blackberry dalam chatting, maka efek ikut-ikutan pun terjadilah. Padahal kenyataannya banyak fitur dan function Blackberry yang mengecewakan customer karena lambatnya RIM melakukan perbaikan-perbaikan techinical infrastucture-nya.  Namun banyak pengguna Blackberry sudah terlalu nyaman menggunakannya, sehingga enggan untuk menggantinya.



MARKETING MIX


Setelah kita membuat ide bisnis, maka penting untuk membuat Marketing Mix yang merupakan bagian dari Marketing Plan. Sebagus apapun produk / jasa Anda buat, tapi kalau tidak mempunyai marketing Plan yang menarik maka tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Membuat sebuah marketing Mix yang baik biasanya didasarkan pada 3 hal : 



  1. Produk. 
    • Bagaimana positioning produk Anda
    • Apa diferensasi produk Anda
    • Inovasi produk diciptakan setiap 3-4 bulan sekali
    • Temukan trensetter dari negara dan kota yang berbeda
    • Cari benchmark dari bisnis sejenis di negara Asia Tenggara
  2. Harga. 
    • Tentukan harga berdasarkan overhead cost (fixed cost) + variable cost + pajak, sehingga dapat menentukan harga dasar produk Anda.
    • Buatlah berbagai penawaran harga yang menarik, seperti promo bundling, promo dapat voucher yang dapat dipakai untuk kedatangan berikutnya, buy one get two, diskon khusus dalam periode waktu tertentu, dsb.
  3. Tempat
    • Tentukan distribution channel dimana produk Anda akan dijual dimana disesuaikan dengan karakter penghuni kota / daerahnya.
    • Lakukan ekspansi distribusi secara bertahap untuk mempelajari progress setiap bulannya. 



INTELLECTUAL PROPERTY

Sebuah ide bisnis yang baik sudah seharusnya didaftarkan sebagai Intellectual Property. Tujuannya supaya orang lain tidak dapat mengambil ide yang sudah Anda perjuangkan dengan seenaknya. Dengan mendaftarkan ide dan nama brand produk / jasa Anda, berarti Anda sudah berpikir secara smart. Karena selain orang lain tidak bisa meniru ide Anda, jika ada pihak yang ingin memakai ide / teknologi Anda, maka ia harus membayar sejumlah royalty yang dibayarkan dalam periode tertentu dengan kategori bentuk, lokasi distribusi, jumlah yang dapat Anda tentukan sendiri. Dengan demikian dapat menjadi suatu strategi manajemen yang cerdik bagi perusahaan Anda dalam melakukan income generation. 



MONETIZING 

Sebuah ide bisnis tanpa didukung oleh finansial yang memadai tidak akan menjadi sebuah bisnis. Lalu darimana kita mendapatkan dana untuk ide bisnis yang dibuat? Tentunya banyak caranya. Mulai dari merogoh kocek sendiri, meminjam dana dari saudara / orang tua / koperasi / bank, mencari angel investor, sampai mencari sponsor. 

         


SPONSORSHIP

Sponsorship dapat menjadi suatu cara yang baik dan efektif untuk mendapatkan sejumlah dana bagi aktivitas bisnis yang kita buat. Karena kita tidak perlu mengeluarkan uang dari kocek sendiri atau hutang dari orang lain. Kuncinya adalah produk / jasa / ide yang kita tawarkan akan dapat memberikan benefit yang setimpal bagi perusahaan yang mensponsori.  




TIME TO ACTION 

Berangkat dari apa yang telah kita pelajari bersama, marilah kita berani melakukan inovasi-inovasi dari produk dan jasa yang kita miliki. Mulailah melangkah untuk menciptakan produk baru yang belum terkategori. Jika kita sadari, sebenarnya peluang ada dimana-mana. Ya, saya ulangi sekali lagi: peluang ada dimana-mana !!! Kuncinya hanya bagaimana kita dapat melihat peluang tersebut dan dengan gigih memperjuangkannya untuk mendulang pundi-pundi kesuksesan.  


Selamat berkreasi !


Kamis, 22 Maret 2012

Pengaruh Sign, Habitus, Konotasi, Mitos, Ideologi, dan Pop Culture dalam penciptaan suatu produk





Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan salah satu saudara sepupu saya di sebuah Mall di Bintaro. Kebetulan suaminya adalah seorang motion graphic designer dan kami ngobrol-ngobrol seputar dunia motion design. Di tengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba dia bertanya: 
"Jev, kamu kan pernah pakai BMW, kebetulan saya lagi minat cari BMW nih.. Rekomendasi kamu tipe yang mana?"   


Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya ke dia:
"Budgetnya berapa? Kenapa kamu mau beli BMW?"


Dengan santai dia menjawab: 
"Budget Rp 70 juta. Abis temen kantor saya ada yang pake. Keren aja ngeliatnya!"


"Well", jawabku, "Kamu mau pake mobil itu dengan hidup damai dan senang bareng keluarga atau mau hidup susah??" 


Dengan mantap dia menjawab : "Ya, hidup senang dong.."


Lalu saya menjawab, 
"kalo gitu jangan beli BMW. Beli mobil jepang aja! Kenapa? Karena mobil eropa dengan budget segitu biasanya sering bermasalah dan bakal bikin hidup kamu bete."




Di negara majemuk dan modern saat ini, kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi yang ada di sekitarnya. Kebiasaan-kebiasaan sehari-hari dibentuk oleh pola yang ada di suatu lingkungan tertentu. Seperti saudara sepupu saya dalam cerita diatas. Dia tergerak untuk memiliki mobil BMW karena temannya sudah memakainya lebih dahulu. Jadi dia tergerak karena ada suatu "unconscious recommendation" (rekomendasi yang tidak disadari) dari temannya itu. Tanpa sadar ia terpengaruh karena ada ikatan pertemanan dengan teman kantornya. Dan perasaan "biasa" terhadap mobil BMW menjadi sesuau yang "menarik" untuk dicoba.   


Berapa sering mungkin kita pernah mendengar alasan klasik mengapa banyak orang memakai Blackberry di Indonesia adalah karena teman-temannya banyak yang memakai Blackberry. Jadi bisa saling BBM-an. Kenapa gak Iphone? Padahal Iphone memiliki fitur yang lebih bagus daripada Blackberry? Dan di Iphone ada aplikasi Yahoo Messenger dan Whatsapp, dimana di pengguna Blackberry juga memiliki apps yang serupa, sehingga memungkinkan Iphone dan Blackberry dapat tetap saling terkoneksi. 






Inilah suatu budaya populer yang telah didesain oleh para kapitalis untuk menguasai dan mempunyai menjual produk-produknya pada suatu masyarakat. Percaya atau tidak, para kapitalis memasukkan mendesain suatu platform sosial di budaya masyarakat sosial, dimana platform tersebut dijadikan standar, dipuja, bahkan didewakan oleh para penggunanya yang ironisnya sebenarnya mungkin banyak diatara kitalah juga yang sedang membaca tulisan ini adalah korban dari budaya populer itu sendiri. 






Facebook, twitter, tumblr, youtube, dan masih banyak lagi platform digital yang sedang marak saat ini, adalah suau contoh konkrit dimana masyarakat dunia sangat tergantung, bahkan banyak juga yang addicted untuk menggunakan social media dalam kehidupan sehari-harinya. Tengok saja para ababil (ABG labil) yang alay (sikap berlebihan / hiperbola), yang setiap beberapa jam selalu meng-update status atau mengkomentari hal-hal tidak penting di status temannya, baik di Facebook, twitter, ataupun youtube. Bahkan ketika sedang, maaf kentut pun, mereka umumkan di update status mereka.  Dan ini bukan terjadi pada anak-anak ABG saja. Dari kalangan usia muda, sampai ke ibu-ibu dan bapak-bapak tidak ketinggalan. Dan banyak dari mereka yang mempunyai group-group tertentu untuk tetap eksis dalam lingkungannya.




Tidak banyak yang tahu bahwa dibalik platform-platform digital ini yang berujung pada consumerism lifestyle yang berujung akan memperkaya kaum kapitalis. Dan ini sudah didesign secara menyeluruh dan massal oleh para penciptanya. 


Lifestyle dan trend, itulah yang selalu ada di dalam masyarakat kita. Setiap budaya selalu berangkat dari Habitusnya, Habitus artinya warisan budaya dari para pendahulu dari suatu kelas di masyarakat. Setiap lapisan masyarakat memiliki habitus yang berbeda, tapi biasanya kelas masyarakat yang ada di bawahnya akan tergelitik untuk menggunakan budaya di kelas di atasnya.


 


Sebagai contoh Jco, Starbuck, dan de Excelso Cafe. Setiap cafe ini menawarkan lifestyle sebagai tempat hang out / socialize dengan teman-teman, rekan kerja. Ruang-ruang umum yang terbuka ini bahkan sering dijadikan juga sebagai tempat meeting dengan supplier / customer yang seharusnya ada di ruang tertutup karena bersifat rahasia. 


Namun setiap cafe memiliki kelasnya sendiri. Kalau Jco lebih membidik masyarakat kelas menengah ke bawah dan menengah (C- dan B class) karena harga makanan dan minumannya yang lebih murah dibanding dengan Starbuck dan Excelso. Sedangkan Starbuck lebih untuk kalangan menengah dan menengah ke atas (B class and up). Excelso untuk kalangan atas (B+ dan A Class). 


Fenomena hadirnya 7-Eleven di Indonesia  sebagai toko kelontong yang buka 24 jam telah memberikan pengalaman baru dalam urusan nongkrong. Kalau biasa di cafe hanya memiliki jenis makanan yang terbatas dan relatif mahal, di 7-Eleven pengunjung yang mayoritas anak-anak ABG dan kalangan usia muda dapat nongkrong di bangku yang disediakan walaupun hanya membeli sebungkus kacang dan sekotak teh botol. 
Hal ini membuat masyarakat dari kelas bawah (D dan D- class) dapat turut menikmati lifestyle layaknya orang di kalangan di atasnya.  Ironisnya di beberapa gerai tertentu, ada pengunjung yang tidak memiliki uang datang dan berpura-pura duduk sambil merokok di samping meja pengunjung yang memiliki banyak makanan di atas meja. Setelah pengunjung yang ramai itu pergi, maka pengunjung yang tidak memiliki uang tersebut langsung duduk di meja pengunjung yang baru saja pergi itu, dimana masih meninggalkan bungkus-bungkus snack, makanan atau minuman yang masih tergeletak di atas meja. Lalu dengan santainya orang ini makan sisa-sisa makanan dan minuman tersebut.






Sebagai manusia sosial yang hidup secara majemuk, peranan tanda (semiotik) menjadi sangat penting sebagai jati diri dari setiap individu. Tak heran para pemilik brand retail  menggapai target marketnya melalui tanda yang telah didesain sedemikian rupa. 


Beberapa tahun belakangan ini, produsen motor dengan gencar mempromosikan motor di Indonesia dengan memberikan kemudahan dalam memiliki motor. Bombardir iklan di berbagai media yang bintangi oleh artis terkenal seperti Agnes Monica, VJ Daniel, Dedi Mizwar, dan Komeng menjadi icon penting bagi target market yang dibidik produsen. Di tahun 2011 telah terjadi pertumbuhan penjualan motor nasional sebesar 8,7% , yaitu sebanyak 8.043.535 unit. Bahkan saat ini, dengan uang Rp 500.000,- seseorang sudah dapat membawa pulang motor ke rumahnya. Hal ini membuat masyarakat dari kalangan bawah yang biasanya naik angkot dan bus, sekarang dapat menaikkan "prestise" dengan memiliki motor sebagai tanda kelas sosialnya telah naik. Padahal kenyataannya belum tentu diimbangi oleh penghasilannya. Banyak dari mereka yang tidak bisa membayar cicilan bulanannya sehingga motornya disita oleh pihak perusahaan leasing. Ironis memang... Namun tanda (sign) telah menjadi bagian yang begitu penting sebagai pengokohan jati diri individu. 






Mengambil contoh dari motor Honda yang di tahun 2011 sebagai produsen paling unggul dalam penjualan di Indonesia, jika dicermati salah satu penyebabnya adalah karena Honda telah menjadi habitus yang telah berubah menjadi Ideologi yang dipercaya antar generasi sebagai motor yang irit dan tahan lama (bandel), serta memiliki nilai jual kembali yang lebih tinggi daripada brand kompetitornya. Ditambah dengan pemakaian icon Agens Monica dan VJ Daniel yang smart dan trendy, membuat para pembeli berkonotasi bahwa Honda sebagai motor yang trendy dan smart bagi para pemakainya. Sedangkan merk (maaf) Suzuki, Kawazaki, atau yang lainnya mempunyai mitos merk yang harga jualnya pasti akan jatuh.     


Nah, sebagai seorang CREATOR dari berbagai industri dan disiplin ilmu, pemahaman dan studi mendalam terhadap tanda (semiotik), konotasi, mitos, denotasi dan budaya populer akan memberikan inspirasi yang baik dalam menciptakan dan memposisikan produk Anda.






     











Kiat membuat bisnis kreatif yang sukses


Siang itu aku sedang kumpul bersama beberapa temanku di sebuah cafe di daerah Jakarta Pusat ketika tiba-tiba seorang temanku yang lain, sebut saja namanya Bobby, datang dengan wajah happy dan berseri-seri. 


Dengan semangat dia berkata : "Bro.. gue ada peluang bisnis bagus nih.. bisa cepet kaya!!" 


Kita semua tertawa karena biasanya Bobby punya ide-ide bisnis aneh yang tidak jelas arah tujuannya. 


Tergelitik ingin tahu, aku bertanya: "Bisnis apa lagi nih, Bob?"


Bobby: "Jual tokek. Bisa dijual ratusan juta sampai milyaran, bro.."


Kita semua tertawa lagi mendengarnya.


Mungkin banyak dari kita yang seperti Bobby. Mau cepat kaya dengan melakukan suatu usaha / bisnis, tapi tidak tahu harus bagaimana memulainya. Atau mereka tahu memulainya tapi tidak punya planning yang detail tentang step-step apa saja yang harus ditempuh.  Biasanya mereka hanya berpikiran pendek dan cenderung ikut-ikutan dengan trend yang sedang ramai saat itu. Atau bahkan ada hanya berdasarkan instinc (feeling) saja. Malah ada yang mengharapkan hoki (keberuntungan) jatuh ke tangan mereka pada saat menjalankan sebuah usaha.  


Memang sah-sah saja orang percaya hal-hal semacam itu. Banyak juga dari para pengusaha sukses jaman dulu memulainya dengan modal dengkul dan nekat. Tapi situasi dulu dan sekarang berbeda. Dulu persaingan belum sebanyak sekarang. Dan dulu orang pintar masih sedikit. Jadi kalau mau sukses dalam bisnis saat ini, alangkah lebih baik jika kita dibekali juga dengan pemahaman yang mendalam atas bisnis yang ingin diterjuni dan tahu cara-cara untuk menanganinya.




Banyak para pengusaha yang telah sukses dalam bisnis yang digelutinya. Sebut saja Bill Gates, Donald Trump, Warren Buffet, mendiang Steve Jobs dan Walt Disney. Juga para pengusaha lokal seperti Abdurizal Bakrie, Eka Tjipta, Ciputra, Michael Hartono dan masih banyak lagi. Pada umumnya, kesuksesan berhasil diraihkarena mereka paham (analyze) akan kebutuhan di dalam pasar, lalu dengan jeli melihat opportunities di dalamnya. 


Disinilah proses Design Thinking berlangsung. Design Thinking artinya innovate unstated solution for unstated needs. Berinovasi dari solusi yang belum ada kategorinya berdasarkan melihat kebutuhan yang belum terkategori juga. 






Sebagai contoh Steve Jobs. Dia paham benar how to create meaning by connecting things. Kejelian melihat suatu kebutuhan yang ada di masyarakat lalu diimplementasikan dengan penciptaan produk yang belum ada / penyempurnaan produk yang sudah ada, baik dalam hal fungsi maupun bentuk estetisnya.    


Steve Jobs melihat trends life style yang akan terjadi 5-15 tahun ke depan dengan mempelajari gaya hidup dan pola kebiasaan masyarakat yang cenderung menginginkan kemudahan, simplicity, dan high tech dalam memenuhi kebutuhan konsumerismenya. Optimasi new technology selalu menjadi values yang ditawarkan oleh Steve Jobs dalam menggapai hati para penggemar produknya.  Bagi para pengusaha start-up business, kiat-kiat sukses dari para pengusaha sukses dapat menjadi proses pembelajaran yang baik.   


Saya pun sedang melatih diri untuk berpikir kreatif dan jeli melihat opportunities di dalam masyarakat. Proses yang tidak mudah, karena saya tidak terbiasa untuk melihat "celah" atas  hal-hal yang sudah biasa terjadi dan meng-"create" suatu kebutuhan. It's a ironic thing indeed, because I usually did many creative jobs for my clients. I did many video, animation, motion design production. Jujur saya menyadari bahwa selama ini saya hanya menjadi orang yang bertugas sebagai eksekutor saja. Mungkin bisa dikategorikan juga sebagai "kuli". Oleh karena itu sekarang saya membiasakan diri untuk berpikir sebagai "CREATOR"  not only "DESIGNER".


Ternyata ketika kita mulai membiasakannya, itu terasa seru dan mengasyikkan! Memang tantangannya cukup banyak. Tapi mental kita justru dilatih untuk kuat dan fokus pada pencarian solusi untuk menemukan jalan keluar bagi ide yang kita inginkan. 
Kuncinya adalah think out of the box, passion, believe, tekun, dan pantang menyerah. 


Sebagai contoh saya saat ini sedang memikirkan sebuah kebutuhan bagi para anak-anak remaja usia 10-17 tahun yang tinggal di perkotaan dimana mereka memiliki hobi yang beraneka ragam dan membutuhkan pengakuan untuk jati diri mereka pada lingkungan sekitarnya. Setelah mempelajari lebih dekat, ternyata gaya hidup mereka cukup dipengaruhi dengan gadget seperti smartphone, ipad, dan komputer. Mereka dapat dikategorikan sebagai market/pasar yang "melek teknologi" atau bisa diartikan juga sebagai para "korban market" dari teknologi-teknologi yang diciptakan oleh negara Barat. 


Sebut saja fenomena digital, seperti facebook, twitter, dan youtube. Mereka ini sangat menggandrungi applikasi ini dan seperti orang yang sudah terhipnotis, setiap hari banyak dari mereka yang tidak bisa tidak untuk terus aktif bersosialisasi di aplikasi-aplikasi digital tersebut. Tak heran jika pengguna facebook Indonesia masuk ke peringkat ke-3 dunia, sedangkan twitternya masuk ke peringkat ke-2.  


Melihat trends dan kebutuhan ini, maka saya berusaha membuat sebuat produk yang related dengan ke-3 aplikasi digital tersebut. Produk ini dapat menjadi alat yang dapat mengekspresikan feeling dengan bebas, lalu dikombinasikan dengan teknologi audio visual yang menarik dan up to date, dan hasil akhirnya dapat didistribusikan ke aplikasi facebook, twitter ataupun youtube. Melalui produk ini, saya akan memperlengkapi lifestyle target market saya dengan digital experience yang lebih seru.


Ini adalah sebuah contoh sederhana Design Thinking yang saya sebutkan di atas. Adapun secara garis besar, prosesnya sebagai berikut:
  • Observe dan Analyze
  • Brainstorm dan Vote
  • Prototype dan Storytelling





Tidak terlalu rumit, kan? Sepertinya tidak, walaupun pada kenyataan setelah mempraktekkannya, akan membutuhkan waktu dan effort yang cukup banyak. Jadi jika di breakdown tipsnya adalah sebagai berikut:

  1. Buatlah tim kecil yang memiliki passion dan tujuan yang sama untuk menjadi "Creator", bukan hanya "Implementor"
  2. Lakukan pengamatan / observasi atas suatu keadaan di masyarakat (biasanya berupa  problem atau kebutuhan yang belum ada). 
  3. Think! Ciptakan solusi atas kondisi tersebut. 
  4. Lakukan sebuah Analisa apakah solusi tersebut dapat menjawab problem / kebutuhan yang ada.   
  5. Brainstorming dengan tim Anda terhadap ide-ide solusi yang telah dibuat dan ciptakan beberapa alternatif ide.
  6. Lakukan Voting pada tim Anda, mana ide yang ingin dicoba jalankan.
  7. Buat sebuah prototype sederhana untuk menguji produk / jasa yang Anda ciptakan. 
  8. Analisa kembali dari respon pasar terhadap prototype Anda.  
  9. Sempurnakan terus prototype sampai menjawab kebutuhan dari target market Anda.
  10. Setelah prototype selesai, maka tibalah di langkah yang lebih seru, yaitu membuat financial plan, production plan, marketing plan, distribution channel, dan customer relation management.  


Di langkah ke-10 inilah ide Anda akan dicoba apakah akan sukses atau tidak. Disinilah gerbang awal pencetusan kreasi yang berawal dari sebuah "IDEA" menjadi sebuah "MONEY MACHINE"  .

Sebagai catatan bagi kita para "Creator" atau "Calon Creator", jangan lupa perhatikan juga bahwa kita ini adalah sebuah mediator antara Marketplace dengan Industries. Jadi kita mempunyai peranan dan tanggung jawab penting dalam menciptakan Sustainable Design. Artinya produk yang kita ciptakan harus mempertimbangkan keseimbangan lingkungan alam, ekonomi, dan juga sosial. Sebagai Creator, janganlah kita hanya memperhatikan keuntungan perusahaan semata, melainkan perhatikan dampak-dampak yang dihasilkan dari penciptaan produk kita. Perhatikan dampak lingkungan Anda. Apakah resource yang Anda pakai merusak lingkungan alam sekitarnya? Pikirkan bagaimana cara mengatasi / mencegahnya. Perhatikan dampak ekonomi yang diakibatkan oleh produksi. Apakah jumlah tenaga kerja yang terserap sudah membantu faktor ekonomi dan sosial di lingkungan tersebut? Juga akankan produk Anda berdampak negatif pada kesehatan para penggunanya?



Setelah bereksperimen pada hal-hal diatas, seberapa jauhkah kesuksesan yang Anda peroleh? Semua tergantung dari Anda sendiri. Anda dan tim Anda yang dapat menentukan dan mengukurnya.
Seperti yang saya katakan sebelumnya think out of the box, have a passion for what you do, believe your dream, tekun akan apa yang dikerjakan, dan pantang menyerah.


Mari jadikan Indonesia lebih baik lewat kita!


   

Jumat, 13 Januari 2012

Pinjaman di Koperasi sebagai bantuan modal usaha

Hari gini masih jadi karyawan?? 




Mau sampai kapan Anda menjadi karyawan?? Loh, kalau tidak jadi karyawan mau dapat penghasilan darimana? Ya menjadi pengusaha, dong.. atau nama kerennya jadi business owner.


Tidak ada yang salah apakah Anda menjadi karyawan atau menjadi pengusaha. Pertanyaannya adalah apakah penghasilan yang Anda dapatkan itu sudah mencukupi bagi kebutuhan Anda? 


Mungkin beberapa dari Anda merasa dilema. Kalau tidak bekerja di perusahaan tempat Anda bekerja, mau dapat penghasilan darimana? Mungkin ada juga sebagian dari Anda yang walaupun menjadi karyawan, namun mempunyai usaha kecil-kecilan (sampingan) agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan. 


Atau bagi Anda yang memiliki usaha sendiri yang berskala kecil atau menengah, mungkin ingin meningkatkan omzet, namun modal terbatas atau tidak memiliki modal cukup. Ingin meminjam ke bank namun tidak mudah dan cukup bertele-tele prosesnya. Ditambah dengan harus memiliki jaminan rumah atau mobil. 


Jangan berkecil hati... Masih ada jalan keluarnya... 
Seperti kata pepatah: "Kalau semua pintu tertutup, pasti ada sebuah jendela yang terbuka. Kalau tidak ada jendela yang terbuka juga, pakai segala cara untuk mendobrak pintu atau bahkan menggali tanah."


Sebagian besar dari Anda pasti pernah mendengar tentang koperasi, baik ketika Anda masih duduk di bangku sekolah maupun di kantor Anda. Namun pernahkah Anda mengerti dan memanfaatkan fungsi dari koperasi? Jika Anda memang membutuhkan dana secara cepat walaupun tidak mempunyai jaminan, fasilitas pinjaman dari koperasi dapat menjadi jalan keluar yang baik bagi Anda. Selain syarat administrasinya relatif mudah, koperasi tidak mengenakan denda bila Anda tidak dapat membayar tepat waktu. Bagi yang tidak dapat membayar, maka pihak koperasi akan memberikan kelonggaran waktu dan melakukan pendekatan secara persuasif kepada pihak peminjam (kreditur) agar dapat mengembalikan pinjamannya.   


Keberadaan koperasi di Indonesia saat ini semakin banyak dan terus berkembang cukup pesat di Indonesia. Oleh sebab itu bagi Anda yang ingin mengembangkan usaha dengan modal terbatas dan membutuhkan dana tanpa agunan, maka koperasi dapat menjadi sarana yang tepat bagi Anda.


Jadi tunggu apa lagi? Segera datang ke koperasi terdekat di sekitar Anda.

Inefficient System of Interactive Photo Booth Kiosk

A couple months ago when I hung out with some friends to Taman Anggrek Mall at West of Jakarta, Indonesia and found one place that fully crowded by many teenagers. I tried to get closer to see what was happened there. It was an instant photo booth outlet actually. In a glimpse, I noticed that this booth has some monitors at next of those booth that we could choose by ourself many template designs for the final print. I was attracted to try but because there are too many people, so I delayed it.


And finally a couple days ago, I went there again in the afternoon of weekday to avoid the crowd and had experiences about it. And yes, they were only had one customer at that time so I can have more free time to get some insight from this business. 


Please note that right here I just focus on the interactive digital experience and criticize the system, NOT the whole business they do. 




As a new comer,  I was asking their staff the mechanism how to take pictures in this booth. The explanation was quite comprehensive and I feel that any customers will getting confuse and would asking and asking again to the staff about how to using it. After getting  clear direction, I started to get a try. I took some accessories provided by them and decided to get some hats and scarf. 









Before take a picture, I should choose one of the 12 backgrounds they have. They have 2 buttons to pick the background, one is for moving the background  up and the second is too moving down. For me this is such a traditional way to do the background. But that's ok regarding the simple way and cost efficiency I guess. But I don't like the "up" and "down" sticker they stick, because they it's looked ugly.




  
The background I've chosed





After choosing the background, I look at the main panel inside the booth. Below is the look. And again, they don't have any direction how to use this tool, so the staff has to explain the customer. Think how if the staff always have to explain every new customer. Such a waste of time! They should have something more simple and easy way to explain these instruction.







Four main buttons below the monitor




After choosing the background and understanding the way to take the pictures, so the next for me was to do.... NARCISM SHOW TIME!!  :D


Here are the way to take pictures :

  • Basically they have 2 types of picture style, one is normal color and the second is with color effect. 
  • The camera will take minimum 16 shots that can be divided into two times of cycle according to the packages you choose. The minimum are 16 shots.
  • You have to press start button when you ready to take picture. 
  • There will be a 5 second count down before the camera captures your pose.
  • Everytime camera shot you, then you would have 5 second to change your pose and accessories, then the camera will automatically take the next shot. 
  • The camera will continue the shot until the end of the package you choose.

After finishing take my narcism pictures, then appears a password on the screen that I should submit it at the computer outside the booth to have access the computer to edit the pictures I got with the template they have. 


For me they have a weakness. They should have a printer or else that the customer can have it on my hand (for example: a paper that shows those password) so I don't have to try memorize it in my brain or write it in my cell phone. I guess many customers will ask again to the staff about these password, and the staff has to see their computer that has all records of all transaction and then tell it to the customer. For me, this is such a waste of time.


Computer to edit the pictures




Then I submit my password and the computer outside the booth. Here is the look of the monitor.






Overall the design is quite good, but the they have some lack of things here that for me is major issues, such as:

  • All text is using english. They suppose to use Indonesia language, because the main market is Indonesian and not all of them understand English as well. 
  • Design is not simple, too much distraction elements.
  • Every icon doesn't have any description. People that has lack of computer experiences will difficult to understand.
  • No instruction how to use this, (and again) the staff should explain the way to edit your pictures.




A feature to add any text, change background, etc. But
unfortunately there is no description of every icon
that will confuse the customer to use it.




No spaces for every font character that will make the
customers have to read more carefully to get the words right.




Staff helps customer to do the editing. If only they have
a user friendly platform,  customer doesn't need
to have any assistant from the staff




So, overall these interactive kiosk has quite much of weakness because of the interface and platform is not user friendly. With this situation, customers would need longer time to finish their purchase. And for the owner of the business, off course this will slow the business. The employee should work harder, in fact they don't suppose to repeat again and again some basic things for the customer, instead of focusing to other necessary productive things in the outlet.  At the end the business will need more time to closing the sales. 


According to the store supervisor, they should provide 5 employees in every outlet. For me this is too much employee for this small place. If they have more user friendly interface, more simple system and store design, I believe that this interactive kiosk will generate more sales and profit.


To see a glimpse of how their software works, this is the link:
http://youtu.be/aV0A3xKCVJI


  





Selasa, 10 Januari 2012

Belajar dari kesuksesan Kentucky Fried Chicken di Indonesia

"Cintai apa yang kita lakukan, maka apapun usaha yang kita lakukan akan berkembang dengan baik.", begitulah yang diungkapkan oleh Bapak Maman Sudarisman, Public Relation Manager di Kentucky Fried Chicken Indonesia (KFCI) . 

Berbicara tentang KFCI adalah satu contoh usaha yang sukses dari dari sebuah bisnis franchise yang beromzet Rp 3,3 triliun dan 417 gerai pada tahun 2011. Bisnis waralaba cepat saji ini dimiliki oleh PT Fastfood Indonesia Tbk. sebagai pemilik tunggal waralaba KFC di Indonesia. Sejarah KFCI didirikan oleh Gelael Group pada tahun 1978 sebagai pihak pertama yang memperoleh waralaba KFC untuk Indonesia. Perseroan mengawali operasi restoran pertamanya pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta, dan telah memperoleh sukses. 

Disini kita dapat mengamati bahwa suksesnya bisnis KFC karena telah melakukan pemasaran yang handal dan konsisten. Adapun 3 hal utama yang membuat pemasaran KFCI berhasil karena: 

1. Produk
    Daging ayam sudah menjadi makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu makanan utama. Ternyata racikan bumbu KFC mendapatkan rasa yang cocok bagi rasa orang Indonesia. Di Indonesia, KFC diperlengkapi dengan nasi yang cocok dengan kultur masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan utama.   

Satu hal yang dapat diamati disini adalah dalam melakukan suatu bisnis, kita harus memiliki produk yang mempunyai peluang untuk diminati oleh target market.
   

2. Market 
    Jumlah pendududuk Indonesia pada tahun 1979 sebanyak 143 juta jiwa. Suatu peluang usaha yang besar untuk melakukan penetrasi pada masyarakat Indonesia dan bisnis jangka panjang yang sustainable bagi KFCI.


3. Strategi Marketing  
    Strategi marketing adalah elemen yang sangat penting dalam pemasaran karena hal ini yang akan menjadi kendaraan bagi produk untuk dapat ter-deliver pada market (pasar). 


Pada dasarnya agar produk yang dipasarkan berhasil, maka pemasar harus melakukan pemetaan (mapping) dengan terinci dengan terus melakukan riset market (market research) secara berkala, dimana diantaranya adalah: 
  • demografi
  • gender
  • umur
  • pendapatan per kapita
  • mobilitas 


KFCI telah melakukan strategi marketing yang tepat, yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia sehingga menjadi produk yang disukai oleh masyarakat Indonesia.

Traffic (jumlah orang) yang melewati lokasi dimana outlet KFCI berada adalah sangat penting. Dalam perjalanan bisnisnya, KFCI sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan lokasi dalam pendistribusian produk. Kalau dahulu lokasi KFCI berada di dalam mall, namun sekarang sudah mulai merambah ke area-area yang ada di pinggir jalan raya dimana terdapat hal-hal yang lebih menguntungkan bagi bisnis KFCI. 

Dalam perjalanannya dengan waktu, KFCI terus membuka peluang franchise bagi orang-orang yang mungkin tertarik di bisnis ini. Untuk dapat memperoleh pendapatan kotor Rp 1-3 milyar per bulan siapa yang tertarik? 

Selasa, 25 Januari 2011

Semua kumiliki karena DIA

Udah Januari 2011..
Nulis lagi ah.. Bingung mo nulis apa? Dan mau start dari mana.. too many things I have in my life. Let just follow my heart and finger goes...


Mau cerita apa yah... Sebenarnya banyak yang ada di lubuk hati yang belum keluar.. Semua impian, hasrat, kerinduan, harapan... semua melebur menjadi satu kesatuan yang komprehensif. Start from where I've been... keluarga dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Lalu ke my new family, keluarga yang saya bentuk, bangun, pelihara, dan besarkan saat ini. Lalu bisnis yg sedang kubesarkan. Sungguh semua itu adalah cerita hidupku. Bagian yang melekat dalam hidupku.


Ahh.. mungkin bisa start cerita dari sini...
Baru saja kami sekeluarga menikmati berkat yang Tuhan berikan.. sesuatu yang sudah sejak 1,5 tahun lalu kudambakan, sebuah mobil keluarga.. akhirnya karena anugerah Tuhan kami dapatkan juga mobil itu,... a Mitsubishi Grandis with Mivec 2,400cc machine. Thank God. It's elegant, comfortable, luxurious and fast.. I'm quite like fast, though. Why a family car? Gak pernah terpikir sebelumnya.. Semua datang secara cepat. May be because I have family, even though just still a little member, 1 wife (off course) and 1 little son. They're all my inspiration and motivation to live. Anyway, karena pemikiran bahwa 3-5 thn ke depan dmn kami mungkin akan memiliki anak lagi, so I decided to have a family car.


Sebelumnya saya memiliki BMW keluaran tahun 1995 (tua amat yakk). Gak pernah ngerasain nunggangin europe car, tiba2 pengen nyoba. Dan juga karena harga belinya murah (karena mobil second eropa rata2 harga belinya rendah, comparing with japan car). Setelah 1 thn memakainya, kuputuskan utk menjualnya kembali dan back to japan car, tapi aku mau dengan teknologi yang cukup canggih. 


Yang mau aku share disini adalah, ketika aku inginkan mobil Grandis itu di thn 2009, apa yang kulakukan tau gak..?? Aku cari foto2nya di google dan kudesain sedemikian rupa, aku bikin poster kecil dan kutempel di ruang kerja dan kamar tidur. Hampir tiap hari kuliatin poster itu (tapi gak dipelototin yah.. lagian masa pelotot-pelototan sama kertas? Bisa disangka belom minum obat dari RSJ a.k.a Rumah Sakit Jiwa). Mau tau feelingnya waktu pertama kali liat poster Grandisku? Awalnya seneng sih, soalnya keknya desainnya bagus banget (narsis.com neh).. tapi lama2 biasa aja sih feelingnya.  Nih posternya biar ga penasaran.. 


Poster motivasi Grandis


Singkat cerita Desember 2009 aku malah dapetnya BMW itu. Not bad sih... Wong uangnya cuman cukup utk BMW... Tapi biar begitu, saat itu saya baru ngerasain how confortable and great handling of europe car (walaupun tahunnya tua). Saya pernah lari 180km-an tapi di tikungan tetep stabil, jo.. Kalau bukan karena masalah maintenance nya yang setiap bbrp bulan pasti harus merogoh kocek, saya gak bakal jual BMW itu. ;) 
May be next time I would try Mercedes Benz :D

BMW 320i e36 black metalik th. 1995

Setelah saya mempunyai BMW as my operational car, poster Grandisnya saya cabut dong dari tembok dan saya buang ke sampah. Tapi dasar emang udah cinta sama itu mobil dan sudah masuk ke dalam hasrat yang terpendam, akhirnya setelah melalui pertimbangan demi pertimbangan yang cukup panjang (memilih antara kijang inova, honda freed, honda oddysey, dan grandis), akhirnya kuputuskan untuk membeli Grandis saja.. Grandis is my dreaming car. Istriku yang pada mulanya merasa mobil ini terlalu mewah dan besar, setelah mencoba driving, eh.. dia malah ketagihan.. hehehe.. what a pleasure if we love what we chose. 

Walaupun kocek terkuras cukup dalam, tapi kan hidup ini untuk dinikmati.. you deserve what you earn.. asal jangan keluar dari batas-batasnya yah.. you know what I mean. 

Nah, sekarang mana foto Grandis ku?? Blm sempet difoto.. hihihi.. next thread saya uplod deh..


Now what next?
Well... masih panjang napak tilas hidup ini... yang pasti saya ingin membesarkan bisnis production house dan membuatnya tersistem dengan baik dan ramping (lean company). Then the next step is making another company, an advertising agency (I believe I can because of God). I want to help people.. hmm.. may be it sounds too idealistic, because everybody may need help from other people. So I think my best attitude is... I want to contribute myself in developing my country in whatever talents that God has given to me. (caelahhh...)

Iya lah... talent ku kan di bidang komunikasi. Harus dipakai untuk memajukan bangsa dan org Indonesia. Tapi mesti banyak belajar lagi nih... Ilmunya masih kurang. I believe we are all the learner. Semua kita orang Indonesia yang mau maju harus tetap belajar. Belajar untuk berubah. Berubah menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih maju, lebih kaya, lebih bijaksana, and all the more you want... 

Nah, sebelum I close this thread, ada hal penting yang perlu direnungkan. Penting untuk kita semua. Ini pertanyaan yang selalu menjadi perenungan dalam setiap nafas hidupku:


Kalo kita meninggal:
  1. apa yang ingin orang lain ingat tentang diri kita pada saat kita masih hidup? 
  2. apa yang ingin orang lain belajar dari hidup kita pada waktu kita masih hidup?


Sekian dan terima kasih.. 
jangan lupa minta cendolnya yahh.. 
emangnya kaskus.. hehehe 


God bless you