Kamis, 22 Maret 2012

Pengaruh Sign, Habitus, Konotasi, Mitos, Ideologi, dan Pop Culture dalam penciptaan suatu produk





Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan salah satu saudara sepupu saya di sebuah Mall di Bintaro. Kebetulan suaminya adalah seorang motion graphic designer dan kami ngobrol-ngobrol seputar dunia motion design. Di tengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba dia bertanya: 
"Jev, kamu kan pernah pakai BMW, kebetulan saya lagi minat cari BMW nih.. Rekomendasi kamu tipe yang mana?"   


Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya ke dia:
"Budgetnya berapa? Kenapa kamu mau beli BMW?"


Dengan santai dia menjawab: 
"Budget Rp 70 juta. Abis temen kantor saya ada yang pake. Keren aja ngeliatnya!"


"Well", jawabku, "Kamu mau pake mobil itu dengan hidup damai dan senang bareng keluarga atau mau hidup susah??" 


Dengan mantap dia menjawab : "Ya, hidup senang dong.."


Lalu saya menjawab, 
"kalo gitu jangan beli BMW. Beli mobil jepang aja! Kenapa? Karena mobil eropa dengan budget segitu biasanya sering bermasalah dan bakal bikin hidup kamu bete."




Di negara majemuk dan modern saat ini, kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi yang ada di sekitarnya. Kebiasaan-kebiasaan sehari-hari dibentuk oleh pola yang ada di suatu lingkungan tertentu. Seperti saudara sepupu saya dalam cerita diatas. Dia tergerak untuk memiliki mobil BMW karena temannya sudah memakainya lebih dahulu. Jadi dia tergerak karena ada suatu "unconscious recommendation" (rekomendasi yang tidak disadari) dari temannya itu. Tanpa sadar ia terpengaruh karena ada ikatan pertemanan dengan teman kantornya. Dan perasaan "biasa" terhadap mobil BMW menjadi sesuau yang "menarik" untuk dicoba.   


Berapa sering mungkin kita pernah mendengar alasan klasik mengapa banyak orang memakai Blackberry di Indonesia adalah karena teman-temannya banyak yang memakai Blackberry. Jadi bisa saling BBM-an. Kenapa gak Iphone? Padahal Iphone memiliki fitur yang lebih bagus daripada Blackberry? Dan di Iphone ada aplikasi Yahoo Messenger dan Whatsapp, dimana di pengguna Blackberry juga memiliki apps yang serupa, sehingga memungkinkan Iphone dan Blackberry dapat tetap saling terkoneksi. 






Inilah suatu budaya populer yang telah didesain oleh para kapitalis untuk menguasai dan mempunyai menjual produk-produknya pada suatu masyarakat. Percaya atau tidak, para kapitalis memasukkan mendesain suatu platform sosial di budaya masyarakat sosial, dimana platform tersebut dijadikan standar, dipuja, bahkan didewakan oleh para penggunanya yang ironisnya sebenarnya mungkin banyak diatara kitalah juga yang sedang membaca tulisan ini adalah korban dari budaya populer itu sendiri. 






Facebook, twitter, tumblr, youtube, dan masih banyak lagi platform digital yang sedang marak saat ini, adalah suau contoh konkrit dimana masyarakat dunia sangat tergantung, bahkan banyak juga yang addicted untuk menggunakan social media dalam kehidupan sehari-harinya. Tengok saja para ababil (ABG labil) yang alay (sikap berlebihan / hiperbola), yang setiap beberapa jam selalu meng-update status atau mengkomentari hal-hal tidak penting di status temannya, baik di Facebook, twitter, ataupun youtube. Bahkan ketika sedang, maaf kentut pun, mereka umumkan di update status mereka.  Dan ini bukan terjadi pada anak-anak ABG saja. Dari kalangan usia muda, sampai ke ibu-ibu dan bapak-bapak tidak ketinggalan. Dan banyak dari mereka yang mempunyai group-group tertentu untuk tetap eksis dalam lingkungannya.




Tidak banyak yang tahu bahwa dibalik platform-platform digital ini yang berujung pada consumerism lifestyle yang berujung akan memperkaya kaum kapitalis. Dan ini sudah didesign secara menyeluruh dan massal oleh para penciptanya. 


Lifestyle dan trend, itulah yang selalu ada di dalam masyarakat kita. Setiap budaya selalu berangkat dari Habitusnya, Habitus artinya warisan budaya dari para pendahulu dari suatu kelas di masyarakat. Setiap lapisan masyarakat memiliki habitus yang berbeda, tapi biasanya kelas masyarakat yang ada di bawahnya akan tergelitik untuk menggunakan budaya di kelas di atasnya.


 


Sebagai contoh Jco, Starbuck, dan de Excelso Cafe. Setiap cafe ini menawarkan lifestyle sebagai tempat hang out / socialize dengan teman-teman, rekan kerja. Ruang-ruang umum yang terbuka ini bahkan sering dijadikan juga sebagai tempat meeting dengan supplier / customer yang seharusnya ada di ruang tertutup karena bersifat rahasia. 


Namun setiap cafe memiliki kelasnya sendiri. Kalau Jco lebih membidik masyarakat kelas menengah ke bawah dan menengah (C- dan B class) karena harga makanan dan minumannya yang lebih murah dibanding dengan Starbuck dan Excelso. Sedangkan Starbuck lebih untuk kalangan menengah dan menengah ke atas (B class and up). Excelso untuk kalangan atas (B+ dan A Class). 


Fenomena hadirnya 7-Eleven di Indonesia  sebagai toko kelontong yang buka 24 jam telah memberikan pengalaman baru dalam urusan nongkrong. Kalau biasa di cafe hanya memiliki jenis makanan yang terbatas dan relatif mahal, di 7-Eleven pengunjung yang mayoritas anak-anak ABG dan kalangan usia muda dapat nongkrong di bangku yang disediakan walaupun hanya membeli sebungkus kacang dan sekotak teh botol
Hal ini membuat masyarakat dari kelas bawah (D dan D- class) dapat turut menikmati lifestyle layaknya orang di kalangan di atasnya.  Ironisnya di beberapa gerai tertentu, ada pengunjung yang tidak memiliki uang datang dan berpura-pura duduk sambil merokok di samping meja pengunjung yang memiliki banyak makanan di atas meja. Setelah pengunjung yang ramai itu pergi, maka pengunjung yang tidak memiliki uang tersebut langsung duduk di meja pengunjung yang baru saja pergi itu, dimana masih meninggalkan bungkus-bungkus snack, makanan atau minuman yang masih tergeletak di atas meja. Lalu dengan santainya orang ini makan sisa-sisa makanan dan minuman tersebut.






Sebagai manusia sosial yang hidup secara majemuk, peranan tanda (semiotik) menjadi sangat penting sebagai jati diri dari setiap individu. Tak heran para pemilik brand retail  menggapai target marketnya melalui tanda yang telah didesain sedemikian rupa. 


Beberapa tahun belakangan ini, produsen motor dengan gencar mempromosikan motor di Indonesia dengan memberikan kemudahan dalam memiliki motor. Bombardir iklan di berbagai media yang bintangi oleh artis terkenal seperti Agnes Monica, VJ Daniel, Dedi Mizwar, dan Komeng menjadi icon penting bagi target market yang dibidik produsen. Di tahun 2011 telah terjadi pertumbuhan penjualan motor nasional sebesar 8,7% , yaitu sebanyak 8.043.535 unit. Bahkan saat ini, dengan uang Rp 500.000,- seseorang sudah dapat membawa pulang motor ke rumahnya. Hal ini membuat masyarakat dari kalangan bawah yang biasanya naik angkot dan bus, sekarang dapat menaikkan "prestise" dengan memiliki motor sebagai tanda kelas sosialnya telah naik. Padahal kenyataannya belum tentu diimbangi oleh penghasilannya. Banyak dari mereka yang tidak bisa membayar cicilan bulanannya sehingga motornya disita oleh pihak perusahaan leasing. Ironis memang... Namun tanda (sign) telah menjadi bagian yang begitu penting sebagai pengokohan jati diri individu. 






Mengambil contoh dari motor Honda yang di tahun 2011 sebagai produsen paling unggul dalam penjualan di Indonesia, jika dicermati salah satu penyebabnya adalah karena Honda telah menjadi habitus yang telah berubah menjadi Ideologi yang dipercaya antar generasi sebagai motor yang irit dan tahan lama (bandel), serta memiliki nilai jual kembali yang lebih tinggi daripada brand kompetitornya. Ditambah dengan pemakaian icon Agens Monica dan VJ Daniel yang smart dan trendy, membuat para pembeli berkonotasi bahwa Honda sebagai motor yang trendy dan smart bagi para pemakainya. Sedangkan merk (maaf) Suzuki, Kawazaki, atau yang lainnya mempunyai mitos merk yang harga jualnya pasti akan jatuh.     


Nah, sebagai seorang CREATOR dari berbagai industri dan disiplin ilmu, pemahaman dan studi mendalam terhadap tanda (semiotik), konotasi, mitos, denotasi dan budaya populer akan memberikan inspirasi yang baik dalam menciptakan dan memposisikan produk Anda.






     











Tidak ada komentar:

Posting Komentar